Mengenal Biografi Ferry Unardi, Sang Founder Traveloka: Kisah Nekat Drop Out dari Harvard Demi Membangun Unicorn

Dalam lanskap startup teknologi di Asia Tenggara, nama Ferry Unardi berdiri tegak sebagai simbol keberanian, visi, dan inovasi. Pria kelahiran Padang, 16 Januari 1988, ini adalah sosok di balik Traveloka, perusahaan travel and lifestyle super-app terkemuka yang telah merevolusi cara jutaan orang Indonesia dan Asia Tenggara merencanakan perjalanan mereka. Kisah Ferry bukan sekadar tentang membangun perusahaan unicorn dengan valuasi miliaran dolar; ini adalah kisah tentang seorang insinyur yang berani meninggalkan zona nyamannya di Microsoft dan pendidikan bergengsi di Harvard Business School demi mengejar solusi atas “titik sakit” (pain point) sederhana yang ia alami sendiri.
I. Latar Belakang dan Pendidikan: Fondasi Intelektual dan Teknik
Minat Teknologi Sejak Dini
Ferry Unardi menunjukkan minat yang mendalam terhadap teknologi dan pemrograman sejak masa SMA di Don Bosco Padang. Ketertarikannya pada dunia komputasi membawanya mengambil keputusan besar untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat.
Lulusan Universitas Ternama
Pada tahun 2004, Ferry meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan sarjana di Purdue University di West Lafayette, Indiana. Ia berhasil meraih gelar Bachelor of Science di dua bidang sekaligus: Ilmu Komputer dan Matematika pada tahun 2008.
Latar belakang teknik dan analitis yang kuat dari Purdue ini menjadi fondasi yang sangat penting bagi Traveloka kelak. Ferry tidak hanya belajar tentang kode, tetapi juga tentang logika kompleks dan pemecahan masalah, skill yang krusial dalam membangun platform teknologi berskala besar.
Karir Awal di Microsoft
Setelah lulus dari Purdue, Ferry langsung diterima bekerja sebagai Software Engineer di Microsoft Corporation di Seattle. Selama tiga tahun (2008–2011), ia bekerja pada solusi komunikasi waktu nyata (seperti Microsoft Lync), sebuah pengalaman berharga yang memberinya pemahaman mendalam tentang ekosistem teknologi kelas dunia.
Namun, di tengah karirnya yang menjanjikan, Ferry mulai merasa ada sesuatu yang kurang. Ia menyadari bahwa ia mungkin tidak akan menjadi engineer terbaik di Microsoft, sebuah perusahaan raksasa yang sudah mapan. Ia mulai mencari peluang yang lebih besar, yang memberinya dampak langsung.
Melangkah ke Harvard Business School
Didorong oleh keinginan untuk mempelajari sisi bisnis dari teknologi, Ferry memutuskan untuk keluar dari Microsoft dan mendaftar ke program Master of Business Administration (MBA) di Harvard Business School pada tahun 2011. Keputusan ini menunjukkan transisi pemikirannya dari seorang insinyur murni menjadi seseorang yang tertarik pada manajemen dan wirausaha.
II. “Titik Sakit” yang Melahirkan Ide Brilian
Kesulitan Pulang Kampung
Ide mendirikan Traveloka lahir dari pengalaman pribadi Ferry saat menempuh studi di Boston, Amerika Serikat, dan harus sering pulang-pergi ke Padang. Ia menyadari betapa rumit, tidak efisien, dan mahalnya proses pemesanan tiket pesawat untuk penerbangan domestik dan internasional dari Indonesia.
Pada saat itu, pemesanan tiket seringkali masih melalui agen fisik, harus bolak-balik ke bandara, atau menggunakan website yang user interface-nya sulit dan informasinya tidak lengkap. Titik sakit (pain point) ini, yang dialami oleh Ferry dan jutaan pelancong Indonesia lainnya, menjadi celah pasar yang sangat besar.
Keputusan Ekstrem: Drop Out dari Harvard
Saat menjalani semester pertamanya di Harvard, Ferry mulai melakukan uji coba bisnis kecil-kecilan dengan memperdagangkan tiket penerbangan. Ia semakin yakin bahwa masalah ini harus diselesaikan dengan solusi teknologi di Indonesia.
Pada usia 23 tahun, Ferry mengambil keputusan yang sangat nekat dan mengubah hidupnya: ia memutuskan drop out dari Harvard Business School. Bagi banyak orang, meninggalkan salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di dunia demi memulai startup adalah keputusan gila. Namun, Ferry melihat peluang yang muncul saat itu adalah waktu yang tepat (the perfect timing) untuk terjun ke pasar Indonesia yang sedang berkembang pesat.
“Jika saya tidak melakukannya saat itu, saya akan kehilangan kesempatan. Saya masih muda, dan saya bersama partner saya punya waktu untuk mencobanya,” adalah salah satu alasannya.
III. Mendirikan dan Mengembangkan Traveloka

Awal Berdirinya Traveloka (2012)
Ferry kembali ke Indonesia dan mendirikan Traveloka pada tahun 2012 bersama dua co-founder lainnya yang juga memiliki latar belakang teknik dan analitis yang kuat: Derianto Kusuma (lulusan Stanford, bertemu saat di Microsoft) dan Albert Djaja (bertemu saat kuliah di Purdue).
Traveloka pada awalnya bukanlah platform pemesanan tiket, melainkan metasearch engine—sebuah mesin pencari yang membandingkan harga tiket dari berbagai maskapai.
Perubahan Strategi dan Tantangan Awal
Tantangan awal sangat besar. Sebagai startup yang baru lahir, Traveloka kesulitan mendapatkan kepercayaan dan kerja sama dari maskapai penerbangan. Mayoritas maskapai menolak bekerjasama karena traffic situs yang masih kecil.
Pada pertengahan tahun 2013, Ferry dan timnya mengambil keputusan strategis: mengubah model bisnis dari metasearch menjadi Online Travel Agency (OTA) atau e-commerce pemesanan tiket secara langsung. Perubahan ini menuntut kerja keras karena mereka harus membangun sistem pembayaran dan manajemen yang jauh lebih kompleks dengan tim developer yang saat itu hanya berjumlah delapan hingga sepuluh orang.
Mencapai Status Unicorn
Dengan fokus pada kemudahan pengguna (user experience), harga transparan, dan layanan pelanggan yang prima, Traveloka tumbuh pesat.
- Pendanaan: Traveloka berhasil mendapatkan pendanaan pertamanya dari East Ventures dan kemudian menarik perhatian investor-investor global, yang memvalidasi potensi pasar yang mereka garap.
- Diversifikasi: Dari sekadar tiket pesawat, Traveloka memperluas layanannya ke pemesanan hotel, tiket kereta api, hingga berbagai layanan gaya hidup (lifestyle), seperti tiket atraksi, spa, hingga kuliner (Traveloka Eats).
- Unicorn Status: Pada tahun 2017, Traveloka resmi menyandang gelar unicorn—perusahaan startup dengan valuasi di atas USD 1 miliar—dan terus berkembang menjadi super-app terdepan di Asia Tenggara.
IV. Warisan dan Pengaruh Ferry Unardi
Ferry Unardi kini diakui sebagai salah satu pengusaha teknologi paling berpengaruh di Indonesia dan Asia Tenggara. Ia dikenal karena kepemimpinannya yang inovatif dan pendekatan berbasis data (data-driven) dalam mengambil keputusan.
Traveloka, di bawah kepemimpinannya, telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam bepergian. Pengalaman sulit Ferry mencari tiket pulang ke Padang telah melahirkan solusi yang kini memudahkan jutaan pengguna, sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja dan memajukan sektor pariwisata digital Indonesia.
Kisah Ferry Unardi adalah pelajaran inspiratif bagi para wirausahawan muda: bahwa pendidikan formal setinggi apa pun harus selaras dengan naluri pasar, dan keberanian untuk mengambil risiko besar—bahkan jika itu berarti meninggalkan Harvard—seringkali merupakan harga yang harus dibayar untuk menciptakan inovasi yang mengubah dunia.
Anda ingin brand atau acara Anda mendapat sorotan media yang besar?
Dengan jasa press release Akudigital,
Anda dapat memastikan bahwa berita tentang Anda akan mencapai ribuan mata dan telinga yang ingin mendengar.
Kami akan membantu Anda menyusun cerita yang menarik dan memastikan pesan Anda sampai ke tangan para jurnalis yang tepat.
Jadikan setiap momen berharga Anda menjadi headline yang menggetarkan dengan bantuan jasa press release Akudigital.
Klik link berikut untuk konsultasi gratis via whatsapp

