Dalam dunia kerja sama antara klien dan agency — baik itu digital marketing, PR, desain, maupun kreatif — brief adalah dokumen paling krusial. Brief berfungsi sebagai peta yang menuntun tim agency memahami kebutuhan, target, serta ekspektasi klien terhadap suatu proyek. Namun, kenyataannya, banyak proyek yang berakhir tidak sesuai harapan bukan karena kemampuan agency yang kurang, melainkan karena brief dari klien yang tidak jelas atau tidak lengkap.
Artikel ini akan membahas 7 kesalahan umum yang sering dilakukan klien saat mengirim brief ke agency, serta bagaimana cara menghindarinya agar proyek berjalan lancar, efisien, dan hasilnya sesuai harapan.
Salah satu kesalahan paling sering terjadi adalah ketika klien hanya menulis tujuan secara umum, seperti:
“Kami ingin meningkatkan awareness.”
“Kami ingin lebih dikenal di media.”
Tujuan yang terlalu luas membuat agency kesulitan menentukan strategi yang tepat. Misalnya, awareness seperti apa yang dimaksud — brand awareness, product awareness, atau campaign awareness?
Tuliskan tujuan dengan format SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound).
Contoh:
“Meningkatkan brand awareness produk X sebesar 30% di media online dalam waktu 2 bulan.”
Dengan tujuan yang jelas, agency dapat menyusun strategi yang terukur dan efektif.
Banyak klien menganggap agency sudah “tahu segalanya” tentang brand mereka, padahal setiap proyek memerlukan pemahaman konteks yang berbeda. Tanpa informasi dasar seperti nilai brand, target audiens, dan posisi pasar, tim kreatif bisa salah arah dalam menentukan tone, gaya komunikasi, atau bahkan media yang digunakan.
Sertakan bagian khusus dalam brief berisi:
Deskripsi singkat perusahaan/produk
Nilai brand (brand values)
Target audiens utama
Posisi brand di pasar dibanding kompetitor
Semakin lengkap konteksnya, semakin cepat agency memahami karakter brand Anda.
Kesalahan ini seringkali menjadi penyebab utama gagalnya kampanye. Tanpa target audiens yang spesifik, agency akan kesulitan membuat pesan yang relevan.
Misalnya, pernyataan seperti “Targetnya semua orang dewasa di Indonesia” terlalu luas. Pesan yang dibuat akan menjadi generik dan tidak menyentuh emosi audiens mana pun.
Definisikan target audiens berdasarkan data demografis dan psikografis:
Usia, jenis kelamin, lokasi, pendapatan
Kebiasaan, gaya hidup, minat, dan masalah yang dihadapi
Contoh:
“Perempuan usia 25–35 tahun, tinggal di kota besar, tertarik pada skincare alami, aktif di Instagram.”
Dengan audiens yang jelas, agency dapat menyesuaikan pesan dan media secara lebih efektif.
Beberapa klien hanya memberikan brief satu paragraf tanpa struktur, sementara yang lain mengirimkan dokumen puluhan halaman penuh teori. Keduanya sama-sama berisiko.
Brief terlalu singkat: agency harus menebak banyak hal.
Brief terlalu panjang: poin utama proyek bisa tenggelam dalam detail yang tidak relevan.
Gunakan struktur sederhana namun lengkap, misalnya:
Latar belakang proyek
Tujuan dan target
Deskripsi produk atau layanan
Target audiens
Pesan utama (key message)
Batasan dan ekspektasi
Timeline dan deadline
Struktur ini membantu agency memahami arah proyek tanpa kehilangan fokus.
Kesalahan klasik lainnya adalah memberikan deadline yang terlalu singkat tanpa mempertimbangkan kompleksitas proyek.
Contoh:
“Bisa kirim konsep besok pagi ya?”
Padahal proyek seperti pembuatan kampanye digital atau press release strategis bisa membutuhkan waktu riset, penulisan, revisi, dan persetujuan yang berlapis.
Diskusikan timeline dengan agency sejak awal.
Pahami bahwa setiap proses (ideation, desain, penulisan, approval) memerlukan waktu.
Berikan buffer time untuk revisi.
Dengan timeline realistis, hasil akhir akan lebih matang dan risiko miskomunikasi bisa dihindari.
Agency sering kali diminta untuk “membuat sesuatu yang keren”, tetapi tanpa contoh konkret, interpretasi kata “keren” bisa berbeda antara klien dan agency. Tanpa referensi visual atau gaya komunikasi, hasil akhir mungkin tidak sesuai ekspektasi.
Berikan contoh referensi:
Kampanye atau konten dari brand lain yang Anda sukai
Gaya visual (warna, tone, moodboard)
Gaya penulisan (formal, santai, humoris, profesional)
Contoh:
“Kami ingin tone seperti kampanye Tokopedia ‘Waktu Indonesia Belanja’, tapi dengan sentuhan yang lebih elegan dan profesional.”
Referensi mempercepat proses kreatif dan mengurangi risiko revisi besar.
Kesalahan terakhir — dan paling penting — adalah kurangnya keterbukaan terhadap masukan profesional. Agency bekerja berdasarkan pengalaman dan data. Ketika klien bersikeras dengan pendekatan yang tidak efektif, hasilnya bisa merugikan kedua belah pihak.
Lihat agency sebagai mitra strategis, bukan sekadar eksekutor.
Dengarkan penjelasan logis di balik setiap rekomendasi mereka.
Jika ada perbedaan pendapat, diskusikan berdasarkan data, bukan asumsi pribadi.
Keterbukaan dan komunikasi dua arah akan menghasilkan hasil yang jauh lebih baik daripada sikap “pokoknya harus sesuai permintaan”.
Agar lebih mudah, berikut contoh format singkat yang bisa digunakan saat mengirim brief ke agency:
| Bagian | Isi yang Diperlukan |
|---|---|
| Latar Belakang Proyek | Jelaskan konteks dan alasan proyek dilakukan |
| Tujuan Utama | Tulis dengan format SMART |
| Target Audiens | Demografi, psikografi, kebiasaan |
| Pesan Utama (Key Message) | Poin yang ingin ditekankan |
| Referensi atau Inspirasi | Contoh kampanye, visual, tone komunikasi |
| Batasan / Hal yang Dihindari | Misalnya warna, gaya visual, atau kata-kata tertentu |
| Timeline dan Deadline | Jadwal kerja hingga tanggal peluncuran |
| Kontak PIC | Siapa yang menjadi penghubung utama di pihak klien |
Format ini sederhana namun komprehensif untuk membantu agency bekerja lebih cepat dan akurat.
Hubungan kerja antara klien dan agency bisa berjalan lancar jika dimulai dengan komunikasi yang jelas — dan semuanya berawal dari brief yang baik. Hindari tujuh kesalahan umum di atas:
Tujuan tidak spesifik
Kurang konteks brand
Target audiens tidak jelas
Brief tidak fokus
Deadline tidak realistis
Tanpa referensi
Tidak terbuka terhadap masukan
Dengan brief yang rapi, lengkap, dan terbuka terhadap kolaborasi, proyek Anda akan berjalan lebih efisien, minim revisi, dan hasilnya sesuai harapan.
Ingat, brief yang baik bukan hanya dokumen, melainkan fondasi dari kerja sama kreatif yang sukses antara klien dan agency.
1. Apa akibatnya jika brief tidak lengkap?
Agency mungkin salah memahami tujuan, menghasilkan output yang tidak sesuai, dan menyebabkan revisi berulang.
2. Apakah brief harus selalu dalam bentuk dokumen tertulis?
Idealnya, ya. Namun bisa juga didukung dengan presentasi atau diskusi verbal untuk memperjelas poin penting.
3. Siapa yang sebaiknya menulis brief di pihak klien?
Biasanya ditulis oleh marketing manager, brand executive, atau pihak yang memahami tujuan dan strategi bisnis secara menyeluruh.
Anda ingin brand atau acara Anda mendapat sorotan media yang besar?
Dengan jasa press release Akudigital,
Anda dapat memastikan bahwa berita tentang Anda akan mencapai ribuan mata dan telinga yang ingin mendengar.
Kami akan membantu Anda menyusun cerita yang menarik dan memastikan pesan Anda sampai ke tangan para jurnalis yang tepat.
Jadikan setiap momen berharga Anda menjadi headline yang menggetarkan dengan bantuan jasa press release Akudigital.
Klik link berikut untuk konsultasi gratis via whatsapp
Di era digital yang serba cepat, press release tidak lagi cukup hanya dikirim ke redaksi…
Di era digital 2026, press release bukan lagi sekadar dokumen formal yang dikirim massal ke…
Di era digital yang semakin matang pada tahun 2026, persaingan antar brand tidak lagi hanya…
Press release atau siaran pers telah lama menjadi alat utama dalam dunia public relations (PR)…
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek dunia digital,…
Di era digital yang semakin kompetitif, press release tidak lagi sekadar dokumen pengumuman formal untuk…