Google menegaskan bahwa optimasi untuk AI Overviews dan AI Mode tetap bagian dari SEO, bukan disiplin baru yang terpisah. Penegasan ini tertulis dalam dokumentasi resmi Google Search Central berjudul Optimizing your website for generative AI features on Google Search. Di dalamnya, Google menyebut bahwa istilah AEO dan GEO, dari sudut pandang Google Search, tetap merujuk pada pekerjaan yang sama, yaitu SEO.
Yang membuat dokumen ini penting bagi pemasar Indonesia: Google secara eksplisit menyebut sejumlah taktik yang selama ini dijual sebagai “rahasia AI search” dan menyatakan hal-hal itu tidak diperlukan.
| Taktik | Kata Google |
|---|---|
| File llms.txt | Tidak digunakan Google Search. Membuatnya tidak membantu, tidak pula merugikan. |
| Chunking konten | Tidak ada keharusan memecah konten menjadi potongan kecil. |
| Menulis ulang khusus untuk AI | Tidak perlu gaya penulisan khusus. Sistem AI memahami sinonim dan maksud. |
| Schema khusus AI | Tidak ada markup schema.org khusus untuk AI Overviews atau AI Mode. |
| Mengejar penyebutan tidak autentik | Tidak seberguna yang dibayangkan. |
Nada dokumennya tidak biasa. Google umumnya berhati-hati dan banyak memberi catatan, tetapi di bagian ini mereka memakai kata “tidak perlu” secara langsung.
Alasannya ada pada cara fitur AI Google bekerja. Menurut dokumentasi tersebut, AI Overviews dan AI Mode berakar pada sistem peringkat dan kualitas Google Search yang sudah ada. Dua teknik yang disebut:
Karena sumbernya indeks yang sama, halaman yang tidak terindeks tidak akan muncul di fitur AI. Syarat dasarnya pun sama: halaman harus terindeks dan memenuhi persyaratan teknis Google Search.
Ini bagian yang paling menarik. Google membedakan konten komoditas dari konten non-komoditas.
Konten komoditas adalah tulisan yang isinya pengetahuan umum dan bisa ditulis siapa saja, misalnya artikel berjudul “7 Tips untuk Pembeli Rumah Pertama”. Konten non-komoditas membawa sudut pandang atau pengalaman yang tidak dimiliki orang lain, misalnya tulisan tentang alasan seseorang melewatkan inspeksi rumah dan apa akibatnya pada saluran pembuangan.
Bagi banyak blog bisnis di Indonesia, ini pukulan yang cukup telak. Sebagian besar konten yang diproduksi masuk kategori pertama.
Google juga menyebut bahwa HTML tidak harus sempurna secara semantik, karena sistem mereka bisa memahaminya.
Jawaban AI bisa memuat informasi produk dan bisnis lokal. Karena itu Google Business Profile dan Merchant Center tetap relevan, terutama bagi bisnis yang melayani area tertentu.
Bagian ini sering terlewat ketika berita tersebut dikutip ulang.
Seluruh panduan itu berbicara tentang Google Search dan fitur AI di dalamnya. ChatGPT, Claude, Perplexity, dan asisten AI lain berjalan di ekosistem berbeda, dengan cara pengambilan sumber yang berbeda pula. Google bisa menyatakan llms.txt diabaikan sistem mereka, tetapi pernyataan itu tidak mengikat platform lain.
Jadi kesimpulan yang tepat bukan “semua taktik AI search itu omong kosong”, melainkan “untuk Google Search, taktik-taktik itu tidak diperlukan”. Bila target Anda mencakup asisten AI di luar Google, evaluasinya perlu dilakukan terhadap dokumentasi masing-masing platform.
Salah satu poin yang paling mudah disalahpahami adalah pernyataan Google mengenai penyebutan brand. Google menyebut bahwa mengejar penyebutan yang tidak autentik tidak seberguna yang dibayangkan, karena sistem peringkat mereka berfokus pada konten berkualitas sementara sistem lain menyaring spam.
Perhatikan kata kuncinya: tidak autentik. Yang dipersoalkan adalah penyebutan yang dibuat-buat, misalnya membeli ratusan artikel identik di situs berkualitas rendah semata-mata agar nama brand muncul di banyak tempat.
Ini berbeda dari liputan media yang benar-benar diperoleh karena ada nilai beritanya. Google sendiri menyatakan fitur AI mereka bisa menampilkan apa yang dibicarakan tentang produk dan layanan di berbagai tempat, termasuk blog, video, dan forum. Yang menentukan adalah kualitas dan keasliannya, bukan jumlahnya.
Google mengarahkan pemilik situs ke laporan performa AI generatif di Search Console untuk melihat bagaimana konten tampil di fitur AI. Mereka juga memberi peringatan yang cukup tegas: waspadai alat pihak ketiga yang menjanjikan keberhasilan peringkat atau mengaku memakai metrik internal Google, karena tidak ada alat pihak ketiga yang punya akses ke sistem peringkat maupun sistem AI mereka.
Pesan inti dokumentasi Google sebenarnya sederhana dan agak membosankan: tidak ada jalan pintas baru. Fitur AI mereka mengambil dari indeks yang sama, dinilai dengan sistem yang sama, dan yang menentukan tetap kualitas konten serta kebersihan teknis situs Anda.
Bagi pemilik bisnis, ini justru kabar baik. Anggaran yang selama ini dialokasikan untuk taktik yang tidak berpengaruh bisa dipindahkan ke hal yang memang menentukan: konten yang punya sudut pandang, fondasi teknis yang rapi, dan reputasi yang dibangun secara jujur.
Dari sudut pandang Google Search, tidak. Google menyatakan optimasi untuk pencarian AI generatif pada dasarnya tetap SEO, karena fitur AI mereka berakar pada sistem peringkat Search yang sama.
Tidak untuk Google Search. Google menyatakan mengabaikan file tersebut, sehingga keberadaannya tidak membantu maupun merugikan. File ini masih bisa relevan untuk sistem lain di luar Google.
Tidak ada keharusan. Google menyatakan sistemnya mampu memahami beberapa topik dalam satu halaman, dan tidak ada panjang halaman yang ideal.
Tidak ada schema khusus untuk fitur AI. Data terstruktur tetap berguna sebagai bagian strategi SEO secara umum, terutama untuk rich results.
Yang dipersoalkan Google adalah penyebutan yang tidak autentik. Liputan yang benar-benar diperoleh karena nilai beritanya berbeda dari praktik tersebut, dan tetap berperan membangun kredibilitas.
Gunakan laporan performa AI generatif di Google Search Console. Google mengingatkan agar berhati-hati terhadap alat pihak ketiga yang mengaku memakai metrik internal mereka.
Dokumentasi Google menutup pintu untuk jalan pintas, tetapi membuka satu hal dengan jelas: yang dinilai adalah kredibilitas yang nyata, bukan penyebutan yang dibuat-buat.
Di sinilah liputan media yang benar-benar diperoleh punya peran. Asisten AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude menyusun jawabannya dari sumber yang dianggap tepercaya, dan pemberitaan media termasuk salah satunya. Bedanya dengan praktik yang diperingatkan Google: liputan ini diperoleh karena ada nilai beritanya, bukan dibeli dalam jumlah besar di situs tanpa pembaca.
Jasa press release Akudigital bekerja di jalur itu:
Belum yakin momen bisnis Anda cukup bernilai berita? Ceritakan dulu rencananya, tim kami bantu menentukan sudut yang paling mungkin dimuat media.
Konsultasi Gratis via WhatsApp | Lihat layanan jasa press release Akudigital
Agar brand Anda disebut ChatGPT, Gemini, atau Perplexity, ada tiga hal yang perlu dipenuhi: informasi…
ChatGPT Ads resmi masuk Indonesia pada 23 September 2026. OpenAI mengumumkan perluasan layanan iklannya ke…
Answer Engine Optimization (AEO) adalah praktik menyiapkan konten agar terpilih sebagai jawaban langsung di mesin…
GEO (Generative Engine Optimization) adalah praktik mengoptimalkan konten agar dikutip dan dirujuk oleh mesin pencari…
LLMO (Large Language Model Optimization) adalah strategi agar brand dikenali, digambarkan akurat, dan direkomendasikan oleh…
Pelajari cara masuk Google AI Overviews langkah demi langkah: dari indeksasi, jawaban langsung, struktur konten,…